Apa yang harus diucap bila perang berlalu menyisakan darah?
Apa yang harus diucap bila api padam dan yang ada tinggal bara?
Apa yang harus diucap bila punggung membelakangi menjauh pergi?
Katapun sudah tak sanggup terucap bukan?
Tangis mungkin sudah habis pula.
Tapi, bukankah sejatinya perpisahan dan pertemuan tak dapat berdiri sendiri.
Mereka saling mengingatkan waktu masing-masing.
Jangan sampai ada yang lalai dan terlena oleh keasyikan.
Yaa..jadi kalau begitu apa yang harus diucap bila punggung menjauh?
Dan masihkah penting airmata jatuh bila itu hakikatnya?
Biarkan saja tubuh itu mencari kenyamanan yang hakiki.
Biarkan saja mata berkeliling mencari indah.
Biarkan jemari menggambar jalan until cari tempat berdiam.
-dalam imajinasi anak nakal, 28 Des 2014-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar